Menjadi Mahasiswa yang Belajar
Berita Jatim.Online -
Banyak orang mengeluh sulit mencari kerja. Khususnya bagi lulusan baru yang tidak punya pengalaman kerja. Tidak sedikit yang melamar ke sana sini tapi tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Namun dari sisi sebaliknya saya merasakan hal yang juga tak enak. Dari sisi pemberi kerja (perusahaan), saya sering merasa kesulitan mendapat tenaga kerja sesuai dengan yang kami butuhkan.
Banyak orang mengeluh sulit mencari kerja. Khususnya bagi lulusan baru yang tidak punya pengalaman kerja. Tidak sedikit yang melamar ke sana sini tapi tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Namun dari sisi sebaliknya saya merasakan hal yang juga tak enak. Dari sisi pemberi kerja (perusahaan), saya sering merasa kesulitan mendapat tenaga kerja sesuai dengan yang kami butuhkan.
Waktu
memimpin sebuah perusahaan manufaktur kecil di Karawang saya punya
kebijakan untuk memprioritaskan lulusan baru ketika merekrut karyawan.
Pertimbangannya, saya ingin memberi kesempatan seluas-luasnya bagi
lulusan baru. Saya menyediakan diri untuk membimbing dan melatih
karyawan, juga memberi kesempatan kepada mereka untuk belajar secara
mandiri.
Apa
hal terpenting yang saya perhatikan ketika saya menyeleksi calon
karyawan? Kemampuan belajar. Prinsip saya, seorang karyawan yang baik
dan bisa diandalkan adalah orang yang mampu belajar dan mau terus
belajar. Perusahaan akan maju bila para karyawannya adalah orang yang
cerdas, kreatif, dan penuh inisiatif. Tapi bagaimana bisa menilai semua
itu dari suatu wawancara yang singkat? Meski tidak 100% akurat, hal itu
bisa dilakukan.
Bagi
lulusan baru biasanya saya tanya soal apa saja yang dia pelajari waktu
kuliah. Tujuan pertanyaan ini tidak untuk menggali kemampuan spesifik
yang dibutuhkan pada suatu lowongan pekerjaan. Tujuannya lebih pada
menggali informasi tentang kemampuan seseorang untuk belajar. Kemampuan
belajar seseorang akan terlihat dari cara dia menjelaskan apa yang dia
ketahui. Saya biasanya mulai dari pertanyaan umum tapi mendasar, lalu
mengerucut pada hal yang lebih spesifik. Seseorang yang belajar dengan
benar pasti mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sayangnya, banyak
yang sudah keteteran pada satu dua pertanyaan pertama.
Pada
calon karyawan dengan pengalaman kerja ceritanya hampir sama. Biasanya
saya akan minta dia menjelaskan seluk beluk pekerjaan dia di tempat ia
bekerja. Karyawan yang belajar mampu menjelaskan apa yang dia lakukan
secara komprehensif, sedangkan yang tidak hanya bisa menjelaskan sesuatu
secara parsial. Ciri penting dari kemampuan belajar adalah kemampuan
melihat persoalan yang dihadapi secara utuh.
Mengapa
banyak orang yang gagal dalam seleksi kerja? Mengapa banyak orang yang
tak kunjung dapat pekerjaan? Banyak yang mengira karena teknik wawancara
mereka buruk. Ya, banyak yang mengira teknik wawancara adalah kunci
untuk lulus seleksi. Lalu mereka mati-matian belajar dan berlatih
wawancara. Hasilnya: mereka jadi badut saat wawancara.
Sebab
kegagalan yang utama sangat jelas: karena mereka tidak belajar. Atau,
karena mereka belajar dengan cara yang salah. Banyak mahasiswa mengira
di bangku kuliah mereka akan belajar tentang hal-hal yang membuat mereka
siap bekerja. Yang dibayangkan adalah ketika lulus nanti mereka akan
mendapat pekerjaan dengan bekal apa yang sudah mereka pelajari. Pikiran
seperti itu hanya cocok untuk peserta kursus menjahit yang ingin mencari
kerja sebagai tukang jahit!
Pekerja
lulusan perguruan tinggi tidak diharapkan demikian. Mungkin hanya 10%
dari apa yang dipelajari dari kurikulum kuliah yang terpakai di dunia
kerja. Dalam banyak kasus malah jauh di bawah angka itu. Kalau begitu,
untuk apa kuliah bertahun-tahun, mempelajari ilmu yang kemudian tidak
dipakai?
Kuliah,
sekali lagi, bukan kursus keterampilan. Tujuan utama kuliah adalah
untuk mengasah kemampuan belajar. Materi kuliah pada akhirnya hanyalah
sampel yang pada tingkat tertentu bisa diganti-ganti. Lulus kuliah tidak
berarti seseorang sudah lengkap ilmunya, dan siap memasuki dunia kerja.
Lulus kuliah hanya bermakna bahwa seseorang sudah menjalani proses
belajar, dan ia sudah menunjukkan kemampuan belajarnya, dan siap untuk
belajar lagi.
Ketika
memasuki dunia kerja orang tidak dihadapkan pada persoalan seperti saat
menyelesaikan soal ujian di kelas. Ia akan menyelesaikan masalah yang
selalu punya banyak dimensi. Dalam setiap masalah ia harus belajar lagi
untuk mencari penyelesaiannya. Yang harus dia pelajari tidak terbatas
pada bidang yang tadinya ia tekuni, tapi meliputi berbagai bidang. Dan
setiap hari, setiap saat ia akan dihadapkan pada situasi itu. Setiap
hari dan setiap saat ia harus belajar, lagi dan lagi. Bahkan seorang
presiden direktur, seorang pakar sekalipun harus selalu belajar.
Banyak
mahasiswa yang belajar demi menghadapi ujian. Lulus ujian adalah tujuan
belajar. Bahkan lulus ujian adalah tujuan dari tujuan. Karenanya kita
sering menemukan mahasiswa menyontek saat ujian. Pada titik itu ia sudah
gagal sebagai mahasiswa, karena ia gagal memahami makna yang paling
dasar dari proses belajar. Besar kemungkinan ia hanya akan jadi
penenteng ijazah kosong saat lulus nanti.
Banyak
pula mahasiswa yang tidak menghayati proses belajar. Ketika praktikum,
misalnya, mereka hanya fokus pada materi akademik belaka. Padahal ada
banyak sisi non-akademik seperti kerja sama, kepemimpinan, etika, dan
lain-lain. Banyak yang menghabiskan waktu dengan menekuni buku teks,
menjadi penghafalnya, tapi tidak pernah peduli pada hal lain seperti
pergaulan, komunikasi, dan hal-hal lain yang dikenal sebagai soft skill.
Hasilnya adalah seseorang yang mahir dalam hal-hal teknis, tapi gagap
dalam kerja sama.
Oleh : Hasanudin Abdurakhman
- Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM)
- General Manager di salah satu perusahaan Jepang yang berkantor di kawasan Summit Mas, Sudirman, Jakarta Selatan



Tidak ada komentar